04:51 - Senin 26 Februari, 2018

Bakteri Selulosa Dari Teh Bantu Manusia Hidup di Mars

Jun 3, 2016 252 Viewed Santi Dwi Pratiwi
teh bantu manusia hidup di mars

GALAXY.CO.ID – Teh merupakan jenis minuman yang dibuat dengan cara menyeduhkan daun, pucuk maupun tangkai dari tanaman Camellia sinensis yang di keringkan dengan air panas. Teh sendiri dibagi menjadi empat kelompok, antara lain teh hitam, teh oolong, teh putih dan teh hijau.

Manfaat teh sendiri juga beragam, yaitu sebagai sumber antioksidan, membakar lemak sampai meredakan stress. Tak hanya itu, menurut penelitian baru-baru ini, minuman teh ternyata dapat membantu manusia untuk hidup di planet Mars.

Apabila manusia hidup di Mars, maka mereka membutuhkan alternatife sumber daya material untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Pihak Florea telah menawarkan bagaimana cara untuk memperoleh sumber daya tersebut yaitu dengan membuat material yang berbasis selulosa dengan bantuan bakteri dari the kombucha. Hal ini disebabkan karena kebutuhan biaya yang mahal jika harus membawa sumber material dari Bumi.

Baca Juga:  Teleskop Radio Terbesar di Cina Yang Bernama FAST Telah Resmi Beroperasi

Teh Kombucha adalah jenis teh yang paling terkenal di dunia, karena teh tersebut dihasilkan dari proses fermentasi dengan Komagataeibacter rhaeiticus. Setelah dilakukan proses tersebut, teh juga akan mengeluarkan bakteri yang bisa menghasilkan beragam jenis selulosa. Manfaatnya juga sudah tersebar luas, yaitu bisa dijadikan makanan seperti nata de coco sampai dibuat kosmetik.

Menurut peneliti dari Imperial College London, pihak mereka juga sudah mengembangkan alat untuk perangkat DNA, dan dengan alat tersebut mereka bisa memproduksi selulosa dengan lebih terkontrol lagi, selain itu ukurannya pun juga dapat diatur dengan alat tersebut.

Baca Juga:  Fosil Marsupial Pemakan Bekicot Ditemukan di Australia

“Yang membuat pendekatan itu menjanjikan adalah karena kami telah menunjukkan jika produksi selulosa dapat dikontrol secara genetic. Selain itu kita juga bisa memproduksi material dengan bernagai pola, bentuk serta ukuran,” tutur Florea.

Selulosa sendiri dapat digabungkan dengan senyawa kimia yang berfungsi sebagai sensor. Maka dari itu, selulosa tersebut bisa digunakan sebagai pendeteksi zat racun, warnanya juga akan berubah untuk memberikan peringatan.

Melalui pengembangan yang dilakukan oleh Florea dan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tersebut, mereka mengharapkan jika temuannya dapat bermanfaat di masa depan.

Filed in
Related posts
Your comment?
Leave a Reply