02:11 - Jumat 27 April, 2018

Upaya Pemerintah Dalam Mengendalikan Inflasi di Bulan Puasa

Jun 4, 2016 263 Viewed Bisma Kurniawan
inflasi di bulan puasa

GALAXY.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur telah mencatat besaran inflasi selama bulan Mei sebesar 0,19 persen. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 0,24 persen. Selama bulan Mei, sudah tercatat sebanyak 67 kota yang mengalami inflasi serta 15 kota mengalami deflasi.

Hal tersebut tidak jauh beda dengan hasil survey yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Awalnya pada minggu keempat masih 0,19 persen, sekarang ini 0,24, sedangkan di bulan April lalu 3,6 persen, kesimpulannya adalah perkembangan dari inflasi saat ini masih cukup terjaga. Meski pemerintah harus terus mengendalikan harga komiditas pangan menjelang bulan Ramadhan.

Menurut Teguh Pramono, Kepala BPS Jatim, menyatakan bahwa inflasi Jatim dipicu oleh kenaikan harga sembako, contohnya pada harga gula yang semula hanya Rp 12.000/kg sekarang naik menjadi Rp 17.000/kg di bulan Mei, lalu telur yang sebelumnya hanya Rp 18.000/kg menjadi Rp 22.000/kg, terakhir harga daging, semula harganya Rp 100.000/kg naik menjadi Rp 120.000/kg.

Baca Juga:  Bank Indonesia Memperkirakan Inflasi Sebesar 0,19 % di Bulan Mei

Tetapi pihak dari Provinsi Jatim dinilai sudah mampu mengendalikan harga dari beebagai jenis bahan makanan pokok, sehingga inflasi Jawa Timur menjadi sangat rendah. Hal tersebut member keuntungan pada harga bahan pokok lainnya, misalnya cabai rawit, beras, tomat, ikan segar dan cabai merah.

“Kita pastinya akan terus mengantisipasi terhadap kondisi tekanan pada bulan puasa ini sampai menjelang lebaran nanti. Namun karena bersamaan dengan masuknya anak sekolah, jadi hal ini perlu untuk di antisipasi,” jelas Agus.

Baca Juga:  BI Tidak Akan Membiarkan Nilai Rupiah Naik, Sebab Dapat Mempengaruhi Stabilitas Sektor Usaha

Selain itu, kita juga harus waspada terhadap potensi datangnya La Nina pada semester II-2016, karena peristiwa tersebut dapat mengakibatkan tanaman gagal panen.
“Kita melihat pada semester kedua ada resiko terjadinya La Nina, yakni periode basah yang membuat tanaman seperti holtikultura gagal untuk dipanen serta menyebabkan tekanan harga,” Ungkap Agus.

Filed in
Related posts
Your comment?
Leave a Reply